Review Komik Pluto. Komik Pluto karya Naoki Urasawa tetap menjadi salah satu karya paling dihormati dan sering dibaca ulang hingga Januari 2026 ini, hampir dua dekade setelah seri ini selesai terbit pada 2003–2009. Diadaptasi secara brilian dari arc “The Greatest Robot on Earth” dalam manga klasik Astro Boy, Pluto mengubah cerita anak-anak tentang robot menjadi thriller filosofis dewasa yang gelap. Berlatar dunia di mana robot canggih hidup berdampingan dengan manusia, cerita ini mengikuti Gesicht, detektif robot Jerman yang menyelidiki pembunuhan berantai terhadap robot paling kuat di dunia—termasuk salah satu korban adalah sahabatnya sendiri. Dengan narasi yang lambat tapi penuh ketegangan, seni hitam-putih yang ekspresif, dan tema tentang perang, identitas, dan apa artinya menjadi “manusia,” Pluto sering disebut sebagai salah satu manga terbaik sepanjang masa yang berhasil mengangkat cerita lama menjadi karya modern yang mendalam dan menyentuh. BERITA BOLA
Adaptasi yang Brilian dan Pendekatan Dewasa: Review Komik Pluto
Urasawa mengambil inti cerita Osamu Tezuka dan membaliknya menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dan kompleks. Alih-alih fokus pada petualangan heroik Astro Boy, Pluto menjadikan robot sebagai korban dan pelaku dalam misteri pembunuhan yang sistematis. Setiap robot korban adalah salah satu dari tujuh robot terkuat dunia—mereka punya nama, trauma perang, dan keluarga yang mereka lindungi. Gesicht sebagai protagonis bukan detektif dingin; dia penuh keraguan, kenangan buruk dari konflik masa lalu, dan pertanyaan tentang ingatan yang mungkin telah dimanipulasi. Urasawa mempertahankan elemen sci-fi klasik tapi menambahkan lapisan psikologis: robot yang menangis, robot yang mencintai, robot yang membenci dirinya sendiri. Cerita ini tidak pernah jatuh ke jebakan aksi murahan; setiap pembunuhan terasa tragis, dan setiap petunjuk membawa pembaca lebih dalam ke pertanyaan besar tentang kebencian, balas dendam, dan siklus kekerasan. Di era sekarang, ketika tema AI dan hak robot semakin relevan, pendekatan Pluto terasa lebih tajam dan visioner daripada banyak karya kontemporer.
Seni dan Narasi yang Menyatu Sempurna: Review Komik Pluto
Seni Naoki Urasawa di Pluto adalah salah satu yang paling ekspresif dalam manga. Wajah-wajah robot digambar dengan detail halus—mata yang kosong tapi penuh emosi, retakan logam yang seperti luka, dan ekspresi yang membuat pembaca lupa bahwa ini bukan manusia. Latar belakang kota-kota futuristik, medan perang yang hancur, dan ruang interogasi terasa hidup meski hanya hitam-putih. Panel-panel besar sering digunakan untuk momen hening atau close-up wajah, menciptakan ketegangan yang hampir sinematik. Narasinya lambat tapi disengaja—Urasawa tidak takut membiarkan pembaca menunggu, membangun empati terhadap karakter sebelum menghancurkan mereka. Dialognya tajam dan filosofis tanpa terasa menggurui; percakapan antara robot dan manusia sering menyentuh inti tentang prasangka, trauma kolektif, dan batas antara hidup dan mesin. Karakter pendukung seperti Atom (Astro Boy), Uran, atau Profesor Abullah punya peran yang kuat, bukan sekadar cameo—mereka membawa beban emosional yang membuat cerita terasa lebih besar dari sekadar misteri pembunuhan.
Warisan yang Abadi dan Resonansi Saat Ini
Pluto telah menjadi tolok ukur bagi manga yang mengadaptasi karya klasik menjadi sesuatu yang lebih dewasa dan relevan. Di awal 2026 ini, dengan adaptasi anime yang terus dibicarakan dan edisi kolektor yang laris, seri ini masih jadi bacaan wajib bagi penggemar sci-fi, misteri, dan cerita tentang kemanusiaan. Banyak pembaca baru menemukannya lewat rekomendasi dan sering bilang terkejut karena komik “lama” ini membahas isu AI, perang, dan identitas dengan cara yang lebih dalam daripada banyak seri baru. Kritik kecil biasanya hanya soal pacing yang lambat bagi pembaca yang terbiasa dengan cerita cepat, tapi justru itulah kekuatannya—memberi ruang bagi emosi dan refleksi. Warisannya adalah membuktikan bahwa manga bisa jadi sastra tinggi: cerita yang tidak hanya menghibur, tapi juga mengajak pembaca mempertanyakan nilai-nilai dasar tentang hidup, kematian, dan apa yang membuat seseorang pantas disebut “hidup.”
Kesimpulan
Pluto adalah masterpiece yang berhasil mengubah cerita anak-anak tentang robot pahlawan menjadi meditasi dewasa tentang perang, kebencian, dan pencarian identitas. Dengan seni Naoki Urasawa yang luar biasa dan narasi yang penuh empati serta ketegangan, komik ini tetap terasa segar dan menyentuh bahkan setelah bertahun-tahun. Di Januari 2026 ini, ketika dunia semakin bergulat dengan pertanyaan tentang kecerdasan buatan dan hak makhluk non-manusia, Pluto terasa seperti peringatan sekaligus harapan—bahwa bahkan mesin pun bisa merasakan sakit, cinta, dan penyesalan. Bagi siapa saja yang mencari cerita misteri yang cerdas, emosional, dan penuh makna, seri ini bukan sekadar komik bagus—ini adalah pengalaman yang mengubah cara kita memandang apa artinya menjadi “manusia.” Sampai kapan pun, selama masih ada yang bertanya tentang batas antara hidup dan mesin, Pluto akan terus menjadi jawaban yang paling menyentuh dan gelap sekaligus.