review-komik-mpd-psycho

Review Komik MPD Psycho. Komik MPD Psycho karya Eiji Ōtsuka dengan ilustrasi Sho-u Tajima tetap menjadi salah satu karya psychological horror dan thriller paling ikonik serta kontroversial di dunia manga hingga kini. Diserialkan sejak 1997 di majalah Young Magazine dan masih berlanjut hingga sekarang meski dengan jeda panjang, seri ini sudah mencapai lebih dari 20 volume. Cerita berpusat pada Kazuhiko Amamiya, seorang detektif swasta yang menderita gangguan kepribadian disosiatif (Multiple Personality Disorder) dan sering berganti antara identitasnya yang berbeda untuk memecahkan kasus pembunuhan berantai yang mengerikan. Dari awal, komik ini langsung menonjol karena pendekatan yang sangat gelap, grafis, dan intelektual terhadap tema identitas, trauma, dan kegilaan. Ōtsuka dan Tajima tidak sekadar membuat cerita detektif biasa; mereka menyelami sisi tergelap dari psikologi manusia dengan detail medis, filosofis, dan sosial yang mendalam, membuat MPD Psycho sulit dilupakan meski sudah puluhan tahun berjalan. BERITA BOLA

Plot yang Kompleks dan Penuh Twist Psikologis: Review Komik MPD Psycho

Cerita dimulai dengan kasus pembunuhan sadis di mana korban ditemukan dengan barcode di mata mereka, dan pelaku tampaknya memiliki motif yang tidak masuk akal. Kazuhiko Amamiya, yang bekerja sebagai konsultan untuk polisi, mulai menyelidiki sambil berjuang dengan kepribadian alternatifnya: Shinji Nishizono yang dingin dan analitis, serta Kazuhiko yang lebih emosional. Seiring berjalannya cerita, terungkap bahwa kasus-kasus ini terkait dengan eksperimen psikologis masa lalu, kultus, dan konspirasi yang melibatkan manipulasi identitas. Setiap arc memperkenalkan pembunuh baru dengan motif unik—dari pembunuh berantai yang mengoleksi “jiwa” hingga kelompok yang memanfaatkan trauma untuk menciptakan kepribadian baru. Plot tidak linear; sering melompat antara masa lalu dan sekarang, serta antara perspektif berbagai kepribadian Kazuhiko. Twist besar datang ketika identitas utama mulai kabur, dan pembaca ikut bertanya: siapa sebenarnya Kazuhiko? Struktur cerita yang panjang dan rumit membuatnya terasa seperti puzzle psikologis yang terus berkembang, dengan setiap kasus baru menambah lapisan misteri tentang asal-usul gangguan kepribadiannya.

Tema Gangguan Identitas, Trauma, dan Kritik terhadap Psikiatri: Review Komik MPD Psycho

Salah satu kekuatan terbesar MPD Psycho adalah eksplorasi mendalam tentang gangguan kepribadian disosiatif dan dampak trauma ekstrem terhadap jiwa manusia. Ōtsuka menggambarkan bagaimana trauma masa kecil, pelecehan, dan eksperimen bisa memecah identitas seseorang menjadi fragmen yang saling bertentangan. Tema ini diperkaya dengan referensi nyata dari psikologi dan kasus-kasus klinis, tapi disajikan dengan cara yang sangat gelap dan tanpa filter. Komik juga mengkritik sistem kesehatan mental, institusi, dan masyarakat yang sering mengabaikan korban trauma demi “normalitas”. Ada elemen konspirasi besar yang melibatkan manipulasi massa melalui media dan kultus, menunjukkan bagaimana identitas bisa direkayasa untuk tujuan kekuasaan. Karakter pendukung seperti Miwa, rekan Kazuhiko, atau pembunuh seperti Tetora Nishizono menambah dimensi moral yang rumit—tidak ada yang benar-benar baik atau jahat sepenuhnya. Banyak pembaca merasa terguncang karena cerita ini terasa terlalu realistis dalam menggambarkan kegilaan, dan bagaimana trauma bisa menjadi senjata atau kutukan seumur hidup.

Gaya Seni yang Brutal dan Mendukung Atmosfer Gelap

Ilustrasi Sho-u Tajima sangat mendukung nada komik yang mencekam. Panel-panel detail menangkap kekerasan grafis tanpa sensor: darah, organ tubuh, dan adegan mutilasi digambar dengan presisi yang membuatnya terasa nyata dan mengganggu. Ekspresi wajah karakter sering kali mengerikan—mata yang kosong, senyum gila, atau wajah yang terdistorsi saat kepribadian berganti. Tajima juga pintar menggunakan layout panel yang tidak konvensional: halaman penuh close-up, sudut pandang rendah, atau panel yang miring untuk mencerminkan kekacauan mental. Warna hitam-putih yang kontras tinggi menambah rasa dingin dan klinis, seolah pembaca sedang melihat rekaman otopsi atau rekaman terapi. Saat cerita semakin dalam ke dunia psikosis, seni menjadi lebih abstrak dan simbolis—barcode, pecahan cermin, atau bayangan ganda—membuat pembaca ikut merasakan disintegrasi identitas karakter. Gaya ini bukan hanya estetika; ia menjadi alat utama untuk menyampaikan teror psikologis yang menjadi inti cerita.

Kesimpulan

MPD Psycho adalah komik yang tidak cocok untuk semua orang karena kekerasan grafisnya yang ekstrem dan tema psikologis yang sangat berat. Namun, bagi penggemar psychological thriller, horror intelektual, atau cerita tentang identitas dan trauma, seri ini tetap menjadi salah satu pencapaian paling ambisius di dunia manga. Eiji Ōtsuka dan Sho-u Tajima berhasil menciptakan karya yang bukan sekadar menghibur, melainkan memaksa pembaca mempertanyakan batas antara normal dan gila, serta bagaimana masyarakat memperlakukan orang-orang yang “rusak”. Meski serialnya berjalan lambat dan belum selesai sepenuhnya, setiap volume baru masih menarik diskusi karena kedalaman dan keberaniannya. MPD Psycho mengingatkan bahwa horor terbesar sering bukan dari monster luar, melainkan dari pecahan jiwa manusia yang tak pernah benar-benar utuh lagi. Karya ini tetap menjadi benchmark bagi genre dark psychological manga hingga sekarang.

BACA SELENGKAPNYA DI…

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *